Selasa, 30 Juni 2009

dunia kerja

Menembus dan Sukses di Dunia Kerja



Selasa (10/08).Pusat Peluang Carya UI menyelenggarakan seminar, presentasi dan rekrutmen dengan tema “Menembus dan Sukses di Dunia Kerja” yang berlangsung 10 -12 Agustus di Balai Sidang Kampus Depok. Pada hari pertama (10/08) dibicarakan beberapa topik, pembicara pertama Drs. Nusyirwan Ail, Direktur SDM UI yang membahas topik “Mengenal Dunia Kerja”. Topik berikutnya “Sukses Menghadapi Problematika dalam Melamar Pekerjaan” disampaikan Fuad Gani, MA dosen S2 UI. Dillnjutkan dengan “Persiapan Menghadapi Wawancara dan Psikotes” disampaikan Drs. Hilmi Wahdi, Psi. Sesi terakhir topik “Suskses Menghadapi Problematika Pasca Mendapat Pekerjaan,” dipaparkan oleh tim HRD Bank Danamon.

Pada hari kedua (11/08) dilakukan presentasi PT Bank Danamon, Tbk dilanjutkan dengan rekrutmen dan tes menjadi pegawai Bank Danamon, Tbk. Sedangkan pada hari ketiga (12/08) presentasi dilakukan PT Bank Negara Indonesia, Tbk dilajutkan dengan rekrutmen dan tes menjadi pegawai Bank BNI. (admin/11 Agustus 2004)

dunia kerja

Articles

”Langkah Kanan” Memasuki Dunia Kerja
By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Date: 30-Sep-2007 Viewed: 569

Dalam beberapa bulan terakhir, saya menyaksikan presentasi beberapa “Management Trainees” di beberapa perusahaan. Saya melihat ada trainees yang begitu cepat “masuk” dalam dunia kerja, langsung “berkeringat” dan tahu caranya menghadapi “dirty work”. Namun, ada juga yang ‘berat langkah’-nya, terlalu kaku membawa pengetahuan teoritis dari bangku kuliah. Ada pula yang mulai menganalisis tetapi belum benar-benar “berenang” di dunia kerja.


Banyak sekali perusahaan yang sadar perlunya berinvestasi besar untuk mendapatkan tenaga-tenaga yang mumpuni dari luar perusahaan. Namun, banyak perusahaan tidak mempersiapkan ‘landasan’ lewat “induction program” yang mantap, sehingga banyak karyawan baru merasa “dibiarkan”. ”Saya jenuh dan bingung karena sepanjang hari dalam seminggu cuma disuruh membaca katalog”. Atau komentar karyawan baru lainnya, ”Memang ada orientasi berupa pengarahan dari pucuk pimpinan perusahaan yang membuat kami bersemangat dan terinspirasi. Tetapi, ketika menghadapi pekerjaan, banyak sekali hal yang tidak saya ketahui. Walaupun bersikap ramah, semua orang sibuk, dan saya merasa takut mengganggu bila saya bertanya”.



Sebuah hasil penelitian terhadap fresh graduate beberapa perusahaan mulitnasional mengatakan bahwa hanya sekitar 20% dari para fresh graduate yang “dicemplungkan” tanpa bimbingan dapat bekerja dan berkinerja sesuai harapan perusahaan. Sejumlah 30% lainnya butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi, sedang 50% sisanya akan jadi karyawan yang tidak berkinerja optimal, setidaknya satu tahun atau bahkan selamanya. Bayangkan kerugian yang diderita perusahaan bila ternyata para karyawan baru ini kemudian mencari peluang lain, hanya karena menemui jalan buntu dalam beradaptasi di pekerjaan. Segagal-gagalnya program orientasi, masih lebih baik program orientasi diadakan, daripada tidak sama sekali.



‘Ilmu’ yang Tidak Didapat di Bangku Kuliah


Saya teringat saat-saat pertama kali memasuki dunia kerja, bahkan langsung bekerja sebagai manajer di sebuah bank. Sistem dan prosedur, proses bisnis, etik, ‘unggah-ungguh’, efisiensi, cara berkomunikasi, sampai praktik-praktik yang tampak sederhana seperti “filing” , penomoran surat, standar kinerja, ternyata adalah hal “kantoran” yang benar-benar baru bagi saya. Rahasia budaya kerja seperti “jangan anda yang berjalan, biarkan dokumennya berjalan sendiri (dibawa office –boy)” atau pengamalan “clean desk policy” sulit dibayangkan dari bangku kuliah. Untung saja sekretaris, bawahan, teman kerja, atasan kebetulan rela mau memberi pengarahan.


Kalau memang demikian penting, mengapa banyak perusahaan menyepelekan “induction program” ini? Selain biaya dan enerji, ada juga perusahaan yang beranggapan bahwa beradaptasi adalah kompetensi setiap manusia normal, ”Ah, tidak ada yang membimbing saya ketika pertama masuk kerja, buktinya ‘survive-survive’ juga...” Atau, ”Kalau kita mesti memberi pendidikan juga, apa dong yang mereka pelajari di perguruan tinggi?” Padahal, inilah yang melatarbelakangi perlunya dilaksanakannya “induction program”. Perguruan tinggi mana yang mengajari bagaimana layaknya menyampaikan “copy” memo intern? Atau kapan kita perlu menyampaikan “blindcopy” saat mengemail dan kapan “copy”. Bagaimana seorang karyawan segera tahu trik-trik memuaskan rasa lapar diluar jam makan, sementara ia dilarang membawa makanan di meja kerjanya? Apa yang boleh saya fotokopi dan apa yang tidak boleh? Ternyata pengajaran yang seolah sederhana mengenai "How to" dan "Where to go" dalam menghadapi tugas bisa efektif untuk masa kerja selanjutnya dan membuat karyawan bisa lebih segera meng-‘enjoy’ pekerjaan dan lingkungan kerja barunya.



Kancah Menemukan ‘Selera’ Bekerja


Agar cepat dapat menjadi bagian dari perusahaan, mewakili bahkan mengambil keputusan demi kepentingan perusahaan, individu perlu tahu persis mengenai organisasi, sejarah, aspirasi, pelanggan, kebiasaan, dan apa yang diharapkan perusahaan dari dirinya. Karyawan baru perlu tahu betul apa yang dinamakan sukses atau gagal oleh perusahaan, do’s dan don’t’s, dan kapan bisa berkata “ya” atau “tidak”, beserta alasan yang tepat sesuai kebijakan perusahan. Tuntutan perusahaan, terutama di organisasi komersial yang selalu mengacu pada laba perusahaan melalui budaya tertentu, juga perlu dijadikan “mindset” yang mendasari perilaku para fresh graduate. Nilai-nilai sederhana seperti “Di sini berlaku quick response, tidak ada orang berjalan di tangga...semua orang lari” “Pelanggan harus keluar dari kantor kita dengan tersenyum”, akan berpengaruh pada etos kerja individu dan akan dibawa pada perilaku bekerjanya di masa mendatang.

Hal seperti kegiatan administratif dan operasional sangat mudah dinilai dan dipahami, tetapi tidak mudah dilakukan dengan cermat, tepat dan konsisten. Seorang fresh graduate, perlu mencapai taraf “penghayatan” kerja untuk bisa dilepas bekerja sendiri. Individu juga perlu diperkenalkan dengan beban kerja, baik yang normal maupun yang berat. Teman saya, seorang direktur pengembangan SDM di sebuah perusahaan, selalu mengingatkan para “management trainee”-nya, ”Anda akan saya bebani pekerjaan yang paling berat dan kotor. Bila Anda melewati masa ini, maka pekerjaan akan terasa mudah karena Anda sudah menemukan ”selera” bekerja untuk seterusnya”.




Peran Aktif Dua Belah Pihak

Dalam dunia kerja yang kompetitif ini, individu yang akan memasuki dunia kerja, tetap perlu sadar bahwa ia harus mengerjakan pe-ernya dengan cepat dan tangguh. Tidak sekedar menunggu untuk dibimbing atau diarahkan. Ia perlu cepat menyerap dasar-dasar manajemen kerja yang ditunjang oleh manajemen dirinya sendiri, komunikasi formal & informal, etik dan cara bekerja tim. Individu perlu mengembangkan kebiasaan mengatur hidupnya dengan agenda, melakukan tindak lanjut tanpa ditagih, melapor tanpa merasakan keharusan, berpartisipasi aktif dalam rapat-rapat, dan banyak ketrampilan kantoran lain. Selain itu masih ada ketrampilan dasar lain seperti mengembangkan rasa percaya, membina hubungan pertemanan, dan penajaman “common sense” serta sistematika berpikirnya. Proses integrasi antara individu dan perusahaan ini perlu dimotori oleh kedua belah pihak secara aktif, sebagaimana halnya dua orang yang menjalin ikatan perkawinan.



(Ditayangkan di KOMPAS, 22 September 2007)

© 2009 EXPERD Consultant. AllRight

dunia kerja

Written by priandoyo

Juni 17, 2009 at 12:26 pm

Ditulis dalam My Life

Apa yang harus diperhatikan saat berhenti kerja

with 11 comments

“Iya njar, aku udah 3x kali resign (sukarela), rata-rata 3-4 tahun, dan setiap kali resign aku selalu dapet uang ‘balas jasa’ 2-3 kali gaji dari perusahaan itu”
“Dipecat sebenarnya lebih menarik dari pada resign sukarela lho, dipecat artinya kita dapet tunjangan 2 PMTK (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) 2 kali masa kerja”
“Pensiun dini itu menguntungkan, kalau usianya masih produktif, misal teman mengambil opsi pensiun dini pada usia 35 tahun artinya masih dapet 2 PMTK, beda kalau resign sukarela dapet offer dari company lain”
“Dulu saya pindah ke Oil Company ini dapet joining bonusnya gede banget, gila, saya yakin ini Oil Company serius, tapi setelah saya pikir lagi kok kayaknya saya dibodohi ya. Kalau saya dipecat dari perusahaan lama, dapetnya segitu juga kan”

Ada banyak hal yang harus diperhatikan saat berhenti kerja (sukarela/terpaksa), yang standar-standar antara lain Surat Referensi, Jamsostek atau dokumen pendukung lain. Tapi seringkali ada komponen-komponen yang seharusnya menjadi hak kita yang seringkali terlupakan. Tentunya hal ini berbeda antara satu perusahaan dan perusahaan lain.

“Alhamdulilah, semua pinjaman dari perusahaan diputihkan… hore” Komentar seorang teman yang resign dari perusahaan ternama berseri-seri. Pinjaman sekian puluh jutanya untuk rumah dan sekolah diputihkan oleh perusahaan.

Jadi, keputusan untuk resign bukan soalan dapet offer yang lebih baik ataupun sudah ‘capek’ dengan pekerjaan saat ini.
Ada pengalaman lain?

Written by priandoyo

Juni 13, 2009 at 6:57 am

Ditulis dalam Dunia Kerja

Karena umur memang tidak bisa dibohongi

with 7 comments

Jono seorang teman baik saya mengawali karir sebagai junior IT system administrator disebuah perusahaan telekomunikasi besar.
“Jar, semua teknis dan teori mengelola server ini sudah saya kuasai dengan baik, tapi rasanya bos IT ga pernah memberikan saya kepercayaan lebih untuk pegang server production utama”

Atau Rini juga seorang teman baik saya yang bekerja di bank nasional raksasa pernah berujar
“Iya, satu tahun pertama ini hanya dikasih job pegang CS, katanya baru tahun depan pegang teller, padahal apa sih bedanya, kerjaan teller saya paham kok”

Mencoba menyelami dunia kerja, saya mengambil kesimpulan bahwa bekerja bukan saja seputar teknis dan skill tapi juga menyangkut kematangan. Kematangan untuk mengambil keputusan yang tepat (mungkin) tidak bisa dibangun dalam waktu 3-4 bulan saja. Untuk mendapatkan sebuah ’sense’ atas pekerjaan yang terlihat ‘trained monkey’ bisa jadi perlu waktu beberapa tahun.

Untuk first line manager misalnya, memburu sebuah posisi strategis seringkali bukan hanya ditentukan dari faktor kapasitas otak orang itu saja.
“Memang anak muda biasanya ceroboh dan menggampangkan suatu hal” ujar seorang sahabat baik
Selain faktor nasib (yang cukup signifikan) faktor kematangan ini memang mau tidak mau menjadi faktor yang signifikan.

Ada yang punya pengalaman dengan hal ini? untuk seorang sahabat yang tengah berjuang dengan umur.
“…gimana caranya bisa terlihat 5 tahun lebih tua untuk bisa mendapatkan peranan ini…”

d

Written by priandoyo

Juni 17, 2009 at 12:26 pm

Ditulis dalam My Life

Apa yang harus diperhatikan saat berhenti kerja

with 11 comments

“Iya njar, aku udah 3x kali resign (sukarela), rata-rata 3-4 tahun, dan setiap kali resign aku selalu dapet uang ‘balas jasa’ 2-3 kali gaji dari perusahaan itu”
“Dipecat sebenarnya lebih menarik dari pada resign sukarela lho, dipecat artinya kita dapet tunjangan 2 PMTK (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) 2 kali masa kerja”
“Pensiun dini itu menguntungkan, kalau usianya masih produktif, misal teman mengambil opsi pensiun dini pada usia 35 tahun artinya masih dapet 2 PMTK, beda kalau resign sukarela dapet offer dari company lain”
“Dulu saya pindah ke Oil Company ini dapet joining bonusnya gede banget, gila, saya yakin ini Oil Company serius, tapi setelah saya pikir lagi kok kayaknya saya dibodohi ya. Kalau saya dipecat dari perusahaan lama, dapetnya segitu juga kan”

Ada banyak hal yang harus diperhatikan saat berhenti kerja (sukarela/terpaksa), yang standar-standar antara lain Surat Referensi, Jamsostek atau dokumen pendukung lain. Tapi seringkali ada komponen-komponen yang seharusnya menjadi hak kita yang seringkali terlupakan. Tentunya hal ini berbeda antara satu perusahaan dan perusahaan lain.

“Alhamdulilah, semua pinjaman dari perusahaan diputihkan… hore” Komentar seorang teman yang resign dari perusahaan ternama berseri-seri. Pinjaman sekian puluh jutanya untuk rumah dan sekolah diputihkan oleh perusahaan.

Jadi, keputusan untuk resign bukan soalan dapet offer yang lebih baik ataupun sudah ‘capek’ dengan pekerjaan saat ini.
Ada pengalaman lain?

Written by priandoyo

Juni 13, 2009 at 6:57 am

Ditulis dalam Dunia Kerja

Karena umur memang tidak bisa dibohongi

with 7 comments

Jono seorang teman baik saya mengawali karir sebagai junior IT system administrator disebuah perusahaan telekomunikasi besar.
“Jar, semua teknis dan teori mengelola server ini sudah saya kuasai dengan baik, tapi rasanya bos IT ga pernah memberikan saya kepercayaan lebih untuk pegang server production utama”

Atau Rini juga seorang teman baik saya yang bekerja di bank nasional raksasa pernah berujar
“Iya, satu tahun pertama ini hanya dikasih job pegang CS, katanya baru tahun depan pegang teller, padahal apa sih bedanya, kerjaan teller saya paham kok”

Mencoba menyelami dunia kerja, saya mengambil kesimpulan bahwa bekerja bukan saja seputar teknis dan skill tapi juga menyangkut kematangan. Kematangan untuk mengambil keputusan yang tepat (mungkin) tidak bisa dibangun dalam waktu 3-4 bulan saja. Untuk mendapatkan sebuah ’sense’ atas pekerjaan yang terlihat ‘trained monkey’ bisa jadi perlu waktu beberapa tahun.

Untuk first line manager misalnya, memburu sebuah posisi strategis seringkali bukan hanya ditentukan dari faktor kapasitas otak orang itu saja.
“Memang anak muda biasanya ceroboh dan menggampangkan suatu hal” ujar seorang sahabat baik
Selain faktor nasib (yang cukup signifikan) faktor kematangan ini memang mau tidak mau menjadi faktor yang signifikan.

Ada yang punya pengalaman dengan hal ini? untuk seorang sahabat yang tengah berjuang dengan umur.
“…gimana caranya bisa terlihat 5 tahun lebih tua untuk bisa mendapatkan peranan ini…”

dunia kerja

Edukasi dan Tantangan Dunia Kerja

Oleh Mu`arif

"Pilih gelar atau kerja?" begitu pesan iklan salah satu produk yang sering ditayangkan di televisi. Sepintas, iklan ini terkesan amat melecehkan sarjana atau kalangan civitas academica. Akan tetapi, bagi masyarakat umum, pesan iklan ini sungguh realistis dan tandas. Adalah sebuah fakta yang sulit dibantah jika saat ini sarjana atau lulusan akademik banyak yang menganggur. Apalagi setelah memasuki krisis ekonomi global, jumlah pengangguran terdidik dipastikan terus bertambah.

Apabila kita cermati secara saksama pesan dalam iklan tersebut, sesungguhnya terdapat suatu nada pesimistis bahwa pendidikan nasional telah gagal menciptakan tenaga kerja terampil. Dunia pendidikan kita dinilai tidak mampu menjamin masa depan seseorang. Inilah sesungguhnya problem serius yang dihadapi para sarjana atau insan akademik.

Sarjana adalah lulusan akademik yang menempuh jenjang studi secara spesifik. Sayangnya, spesifikasi jurusan justru menyempitkan wawasan pengetahuan dan cara pandang sarjana dalam menghadapi realitas kehidupan sehari-hari. Kita dapat melihat fakta-fakta ketika seorang sarjana malah kewalahan dihadapkan pada problem dan tantangan kehidupan di luar kemampuan akademiknya.

Selama ini, sistem pendidikan nasional masih belum berorientasi pada proses pembentukan karakter dan daya kreatif. Proses edukatif masih seperti "gaya bank" (banking concept of education)--meminjam istilah Paulo Freire. Dampaknya jelas sekali ketika lulusan perguruan tinggi tidak memiliki daya kreativitas yang dapat diandalkan. Pola pikir mereka juga tidak kreatif, hanya menunggu lowongan kerja atau menanti peluang menjadi pegawai negeri (PNS). Jika karakter dan daya kreatif para sarjana telah terbentuk, mereka tidak harus menunggu kesempatan kerja, tetapi justru malah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.

dunia kerja

Menjadi karyawan yang dibutuhkan dalam perusahaan tentu menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi para profesional, termasuk Anda. Namun untuk menjadi orang yang dibutuhkan, tidaklah semudah menyelesaikan pekerjaan Anda sehari-hari. Jadi karyawan yang dibutuhkan perusahaan, bank, PT, atau perusahaan telekomunikasi tidaklah mudah. Harus memiliki skill yang tinggi.

Kepandaian Anda dalam bekerja ternyata bukanlah satu-satunya jaminan bahwa Anda akan menjadi orang yang diperhitungkan dan berhasil dalam karir. Dibutuhkan strategi yang lebih dari sekedar pintar dan pandai menyelesaikan pekerjaan. Strategi tersebut adalah ‘menonjolkan’ kemampuan Anda. Coba Anda perhatikan, hanya orang-orang yang mampu menunjukkan dan menonjolkan kemampuannya lah yang bisa meraih sukses dalam karir dan memenangkan persaingan dalam mencari lowongan kerja atau lowongan pekerjaan di koran dan internet.

July 17, 2008

Ketakutan Orang buka usaha sendiri

Filed under: Dunia Kerja - Administrator @ 4:54 pm
Banyak orang-orang yang takut akan membuka usaha sendiri atau wiraswasta. Mereka jauh lebih senang bekerja dengan orang jadi karyawan Bank sudah bangga, jadi karyawan di kantoran udah bangga, apalagi yang udah jadi karyawan telkom udah kayak serasa jadi bos tuh. Kurangnya rasa percaya diri dan jiwa wiraswastawan yang tinggi membuat rakyat indonesia ini selalu ingin jadi karyawan dan hanya cari-cari lowongan kerja di koran, internet dan media lainnya. Memang jadi PNS tunjangan dapat, hari tua terjamin, tapi jika ingin dapat rumah real estate, punya villa di bali jangan mau kalo cuman jadi PNS. Kalo bisa jadi pemilik saham PT Bakrie telecom, pt excelcomindo pratama , dan lain-lain.

July 16, 2008

Penyebab Sulit Cari Kerja

Filed under: Dunia Kerja - Administrator @ 3:59 pm

Jika anda pengangguran yang anda perlu cari tahu adalah "penyebab sulitnya anda cari kerja" . Saya sendiri tidak kerja kok di instansi swasta, ataupun jadi pegawai pemerintahan :) tapi jangan salah saya punya pendapatan dengan menulis-menulis dan menulis :) . Upps tapi jangan seperti saya :P hidup anda pasti akan susah kalo pekerjaannya seperti saya. Oke kita kembali tips mencari pekerjaan dan kesulitan mencari kerja.

Kesalahan pertama adalah kurangnya pengetahuan kita tentang informasi lowongan kerja, dan bursa lowongan kerja yang beredar. Jika anda mengandalkan cuman bursa lowongan di koran yah sama saja boong :P . Padahal dinternet banyak sekali website lowongan kerja yang tersebar. Mungkin begitu saja artikel kali ini. Bisa dilanjut lain waktu :) .

Hello world!

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:24 pm

Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. If you have any questions, ask them in the forums — we are only too willing to help.


Minggu, 28 Juni 2009

dunia kerja

Bersaing di Dunia Kerja

Minggu, 14 Juni 2009 - 11:00 wib
text TEXT SIZE :
Share
Menyiapkan tenaga terampil dan siap kerja bukan hal mudah. Sekolah menengah kejuruan (SMK) berambisi menjawab tantangan tersebut. Namun untuk mencapainya, SMK harus menggandeng swasta untuk meningkatkan kualitasnya.

Ketersediaan antara lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja tidak seimbang. SMK sebagai salah satu lembaga pendidikan mencoba menjembatani keduanya. Dengan berbagai jurusan yang tersedia, diyakini SMK mampu memberi kontribusi dalam menyiapkan lulusan siap kerja.

Hal ini bukan angan belaka. Terbukti lulusan SMK lebih siap kerja. Data 2007 yang dikeluarkan Depdiknas memperlihatkan bahwa sekitar 42% lulusan SMK telah mendapatkan pekerjaan. Sebanyak 15% melanjutkan pendidikan sambil bekerja dan 12% yang melanjutkan pendidikan tanpa disambi kerja. Persentase yang bekerja ini tentu lebih besar jika dibandingkan dengan lulusan sekolah menengah umum (SMU).

Pada 2007 hanya sekitar 32% saja yang bekerja dan 17% yang bekerja sambil kuliah, sedangkan lulusan SMU melanjutkan pendidikan sekitar 31%. Hal ini memperlihatkan bahwa kompetensi SMK dalam memasuki dunia kerja lebih bagus jika dibandingkan dengan lulusan SMU.

Kenyataan tersebut tampaknya membuat SMK semakin menjadi favorit tujuan pendidikan setelah SMP. Animo siswa memilih SMK pun semakin besar. Berbeda dengan yang terjadi pada dekade sebelumnya, saat SMK sering mendapatkan penilaian negatif. Ada yang menganggapnya sebagai sekolah dengan biaya mahal atau lulusan SMK tidak memiliki peluang ke perguruan tinggi.

Kini masyarakat sudah menganggapnya berbeda. Terbukti rasio siswa yang memilih melanjutkan pendidikan ke SMK setelah menempuh pendidikan menengah pertama terus meningkat. Saat ini rasio siswa SMK dan SMU seluruh Indonesia hampir sama, yaitu 46:54.

Sebagaimana diakui oleh Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno. Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir minat masyarakat untuk memasuki SMK meningkat secara signifikan. Dia menyampaikan pada tahun ajaran 2005?2006 rasio SMK-SMA hanya 30:70.

Fenomena tersebut muncul karena persepsi dan harapan masyarakat pada SMK cukup baik. "Kami selalu menyampaikan apa dan bagaimana SMK sebenarnya. Kami juga berharap, dengan lebih mengerti tentang SMK,masyarakat bisa menjadikan SMK sebagai lembaga favorit melanjutkan pendidikan," ujar Joko.

Pemerintah melalui Depdiknas juga memberikan perhatian lebih pada SMK. Iklan yang ditayangkan Depdiknas di berbagai media massa tentang SMK, c