Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2009

pendidikan

INFO TERBARU
KELAS MALAM
Mulai tahun akademik 2009/2010 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Katolik Indonesia ... more


Nutrifood Achievement Award
Jevelin Nathamia Wendiady, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris, angkatan 2003 menerima penghargaan Nutrifood Achievement Award sebagai "The Most ... more


Quick Link Program Pendidikan
email Forum E-Learning
Perpustakaan
Sistem Infomasi Akademik
UMB PTS

International Collaboration
STUT
Acicis
PMB
top
JULI 2009
M S S R K J S
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31
bottom

pendidikan

Walaupun Indonesia telah pulih dari krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an, negara ini masih tertinggal dari negara-negara tetangga sehubungan dengan akses terhadap layanan pendidikan yang bermutu. Fokus upaya tersebut saat ini adalah pada kualitas lembaga dan belanja publik. Tantangan utamanya mencakup:

  • Pendaftaran sekolah menengah. Indonesia memiliki pendaftaran sekolah dasar yang cukup universal, tetapi di tingkat menengah pertama, peningkatan berjalan lambat. Hanya 55 persen anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah terdaftar di sekolah menengah pertama.

  • Prestasi pembelajaran siswa. Indonesia terus mendapat prestasi yang rendah dalam uji berstandar internasional atas prestasi siswa, bahkan setelah memperhitungkan kondisi sosial ekonomi. Di tahun 2003, Indonesia mendapat posisi ke-33 dari 45 negara dalam Third International Mathematics Science Study (TIMSS). Di tahun 2006, Program for International Student Assessment (PISA), yang menilai seberapa baik kesiapan siswa berumur 15 tahun dalam menghadapi kehidupan, Indonesia mendapat peringkat 50 dari 57 negara dalam bidang ilmu pengetahuan, membaca dan matematika.

  • Alokasi belanja. Walaupun belakangan ini terjadi peningkatan dalam belanja pendidikan secara keseluruhan, investasi Indonesia untuk pendidikan menengah, terutama menengah pertama, masih kurang. Pada saat yang sama, anggaran operasional telah ditekan karena peningkatan substansial dalam pengeluaran untuk gaji.
width="3" Kembali ke atas


PROGRAM BANK DUNIA




Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU)
Proyek BERMUTU berupaya meningkatkan kualitas dan kinerja pengajaran. BERMUTU, yang merupakan singkatan dari ‘Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading’, merujuk pada “kualitas” dalam Bahasa Indonesia. Proyek ini mempersiapkan kerangka kerja untuk memastikan bahwa setiap guru akan mendapatkan peluang untuk meningkatkan pengetahuan mereka dalam mata pelajaran yang mereka ajarkan, dan pada saat yang sama meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Proyek ini juga merupakan upaya meningkatkan sistem akreditasi bagi program pendidikan guru.

Proyek ini akan bekerja dalam beberapa cara, yaitu melalui pendidikan guru berbasis perguruan tinggi, melalui program pengembangan guru tingkat lokal, dan melalui penemuan cara untuk meningkatkan sistem insentif dan pertanggungjawaban guru. BERMUTU akan dijalankan secara langsung di perguruan-perguruan tinggi terpilih yang memiliki program pelatihan guru, dengan menyediakan hibah berbasis kompetitif untuk mendorong mereka dalam meningkatkan status akreditasi dan meningkatkan program penjangkauan mereka untuk guru latihan di wilayah pedesaan dan terpencil, terutama melalui metode berbasis Teknologi Informasi. Proyek ini akan bekerja bersama kelompok guru, kepala sekolah dan pengawas di 16 provinsi dan 75 kabupaten/kota, dengan menyediakan peluang bagi para guru di wilayah pedesaan dan terpencil untuk meningkatkan keterampilan mereka melalui pembelajaran jarak jauh.

pendidikan

Beberapa bentuk pendidikan jarak jauh antara lain adalah:
  • Program pendidikan mandiri
  • Program tatap muka yang diadakan di beberapa tempat pada waktu yang telah ditentukan, informasi pendidikan tetap disampaikan, dengan/tanpa interaksi dari murid.
  • Program yang tidak terikat pada jadwal pertemuan, di satu atau banyak tempat.

"Pendidikan jarak jauh didasarkan pada dasar pemikiran bahwa murid adalah pusat proses pembelajaran, bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri, dan berusaha sendiri di tempat mereka sendiri. Hal ini adalah merupakan kepemilikan dan otonomi."*

Berita baik : Studi-studi telah menunjukkan murid-murid pada tingkatan rendah menunjukkan hasil yang lebih baik dalam program pendidikan jarak jauh jika mereka menyelesaikannya; dan murid-murid pada tingkat rata-rata atau lebih baik menunjukkan hasil yang sama.

Berita buruk : Murid-murid cenderung melebih-lebihkan dan lebih banyak yang gagal pada tingkatan yang lebih tinggi daripada dalam program pembelajaran tradisional, terutama murid-murid pada tingkatan rendah.

Kondisi-kondisi untuk program pendidikan jarak jauh:

Kelas informasi:

  • Alamat website kelas
  • Nama dosen, lokasi dan jam kerja, nomor telepon, fax, alamat e-mail.
  • Nama asisten pengajar, lokasi dan jam kerja, nomor telepon, fax, alamat e-mail.
  • Nama tutor, lokasi dan jam kerja, nomor telepon, fax, alamat e-mail.
  • Nama asisten pendidikan / pustakawan, lokasi dan jam kerja, nomor telepon, fax, alamat e-mail.
  • Lokasi dan jam kerja pusat informasi, nomor telepon, manajer pusat informasi dengan alamat e-mail.

Logistik

  • Materi pendidikan yang anda harapkan.
  • Bagaimana anda akan menerima materi pendidikan tersebut.
  • Bagaimana anda diberitahu atau belajar, serta pengumuman dan pembatalan kelas.

Persyaratan teknis:

  • Peralatan komputer dan internet, program dan spesifikasinya.
  • Type dan versi program.
  • Kemudahan mengakses multimedia.

Jadwalkan diri anda sendiri dan bertahanlah pada jadwal yang telah ditetapkan, yang

pendidikan

Filsafat PendidikanMay 16th, 2008
Merupakan terapan dari filsafat umum, maka selama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat.
Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.
Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu
a. Filsafat pendidikan “progresif”
Didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau
b. Filsafat pendidikan “ Konservatif”.
Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.

Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme,dan sebagainya.

Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali

2. Filsafat Pendidikan Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

3. Filsafat Pendidikan Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach

4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich

6. Filsafat Pendidikan Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff

7. Filsafat Pendidikan esensialisme Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

8. Filsafat Pendidikan Perenialisme Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.

9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Fenomena ”Hidup Lebih Maju”
Setiap orang, pasti menginginkan hidup bahagia. Salah satu diantaranya yakni hidup lebih baik dari sebelumnya atau bisa disebut hidup lebih maju. Hidup maju tersebut didukung atau dapat diwujudkan melalui pendidikan. Dikaitkan dengan penjelasaan diatas, menurut pendapat saya filsafat pendidikan yang sesuai atau mengarah pada terwujudnya kehidupan yang maju yakni filsafat yang konservatif yang didukung oleh sebuah idealisme, rasionalisme(kenyataan). Itu dikarenakan filsafat pendidikan mengarah pada hasil pemikiran manusia mengenai realitas, pengetahuan, dan nilai seperti yang telah disebutkan diatas.
Jadi, aliran filsafat yang pas dan sesuai dengan pendidikan yang mengarah pada kehidupan yang maju menurut pikiran saya yakni filsafat pendidikan progresivisme (berfokus pada siswanya). Tapi akan lebih baik lagi bila semua filsafat diatas bisa saling melengkapi.

pendidikan

Welcome to JPI

.

[JPI] [Editor] [Berlangganan] [Naskah] [Perujukan] [Komentar]

.

JPI

Jurnal Pendidikan Inovatif (JPI : ISSN 1858-327X) terbit setiap bulan Maret dan September berisikan tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian kritis di bidang pendidikan. JPI diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 2005 di Balikpapan dan telah menerbitkan 7 jilid dengan masing-masing jilid memuat 9-10 artikel pendidikan. Jurnal yang diprakarsai oleh Yayasan Sekolah Nasional Kontraktor Production Sharing (YSN-KPS) Balikpapan ini telah berhasil menggugah kesadaran para praktisi pendidikan (contoh: guru) untuk mensharing hasil pemikiran mereka untuk dipahami dan diimplementasikan oleh para pembaca jurnal. Tidak jarang pula, guru negeri (PNS) menjadikan JPI sebagai wadah sukses dalam meningkatkan angka kredit untuk mengurus kenaikan pangkat/golongan.

Penyunting menerima kiriman naskah artikel untuk dipublikasikan pada jurnal berikutnya. Naskah yang masuk dievaluasi dan disunting untuk keseragaman format, istilah, dan tata cara lainnya. Naskah artikel dapat dikirimkan melalui email ke: itasaripati@yahoo.com atau achmad.nizar@gmail.com.

[Kembali ke atas]

EDITOR

Penyunting: Ita Saripati (Ketua) dan Achmad Nizar (Wakil Ketua)

Penyunting Pelaksana: Dwi Lasati, Hetty Kusumaning Adji, Purwanto, Hanim Farida, Rawuh Rudiatmoko, dan Hesty Fitriyani

Penyunting Ahli (Mitra Bestari): A. Rofiuddin (Uiversitas Negeri Malang (UM), Adnan Latief (UM), Ibrahim Bafadal (UM), Suhadi Ibnu (UM), Mimien Henie Irawati (UM), Johan Andoyo Effendi Noor (Universitas Brawijaya Malang), Budi Handoyo (UM), Hernawati (BKD Balikpapan), Ishom Ihsan (UM), dan Nenny Septiana (PPSB YSN-KPS Balikpapan)

Pelaksana Tata Usaha: Suradi dan Muhammad Fachri

Pembantu Pelaksana Tata Usaha: Hadriansyah, Yan Pieter Sura, dan Redehan

Alamat Penyunting dan Tata Usaha: SMP Nasional KPS Balikpapan Jl. Sport No 1 Balikpapan Telp 0542-421611

[Kembali ke atas]

BERLANGGANAN

Untuk berlangganan JPI, isilah formulir berlangganan dengan benar dan jelas. Pembayaran bisa dilakukan melalui transfer Bank Mandiri atau melalui Wesel Pos.Untuk keterangan selengkapnya, download file berikut: formulir berlangganan (doc)..

[Kembali ke atas]

NASKAH

Syarat pengiriman naskah artikel sebagai berikut:

[1] Artikel yang ditulis untuk JPI meliputi hasil pemikiran dan hasil penelitian di bidang kependidikan. Naskah diketik dengan huruf Times New Roman, ukuran 12 pts, dengan spasi At least 12 pts, dicetak pada kertas A4 sepanjang maksimum 20 halaman, dan diserahkan dalam bentuk print out sebanyak 3 eksemplar beserta disket atau CD-nya. Berkas (file) dibuat dengan Microsoft Word. Pengiriman file juga dapat dilakukan sebagai attachment e-mail ke alamat: itasaripati@yahoo.com atau achmad.nizar@gmail.com.

[2] Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. Jika penulis terdiri dari 4 orang atau lebih, yang dicantumkan di bawah judul artikel adalah nama penulis utama; nama penulis-penulis lainnya dicantumkan pada catatan kaki halaman pertama naskah. Dalam hal naskah ditulis oleh tim, penyunting hanya berhubungan dengan penulis utama atau penulis yang namanya tercantum pada urutan pertama. Penulis dianjurkan mencantumkan alamat e-mail untuk memudahkan komunikasi.

[3] Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan format esai, disertai judul pada masing-masing bagian artikel, kecuali bagian pendahuluan yang disajikan tanpa judul bagian. Judul artikel dicetak dengan huruf besar di tengah-tengah, dengan huruf sebesar 14 pts. Peringkat judul bagian dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda (semua judul bagian dan sub-bagian dicetak tebal atau tebal dan miring), dan tidak menggunakan angka atau nomor pada judul bagian:

pendidikan

Pendidikan di Indonesia

Membicarakan hal yang satu ini mungkin tidak akan habis-habisnya. Ya, dengan keadaan yang ada sekarang ini, ditandai dengan demo di sejumlah tempat yang pada dasarnya menuntut pendidikan murah. Tapi saya tidak ingin menulis tentang demo tersebut. Saya hanya ingin menceritakan beberapa keluhan handai taulan (bahkan sampai berdebat kusir hehehe) tentang pendidikan ini.

Salah satu teman saya, agak berang, bilang “Masak sudah sudah ada BOS, kita masih harus bayar Rp. 15.000 per bulan? Di SD lainnya kok enggak bayar lagi.”. Kebetulan memang anaknya berada di SD Negeri 2, dimana ada 3 SDN dalam satu lingkungan sekolah.

Saya coba jadi counter-nya, “Mungkin di SDnya banyak ekstra kurikuler. Sudah cek atau belum? Ada komputer atau enggak?”.

Dia langsung menyanggah, “Ah enggak ada kayak gituan. sama aja!”

Akhirnya lama berdebat, bahkan ditambah satu orang lagi. Cuma jadi kemana-mana buntutnya. Menuduh KepSek korupsi, Guru korupsi, Masya Allah. Setelah lama berdebat, disimpulkan bahwa sebagian dana anggaran orang tua tadi digunakan untuk perbaikan WC, prasarana gedung, tiang bendera, biaya mencat pagar dan lain-lain.

Akhirnya, saya merasa menyadari ada ketidak-adilan disini. Kalau sudah tidak adil, pasti melanggar Pancasila, “Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”. Kita bisa bandingkan SD Negeri di tengah kota dengan SD Negeri di kampung. Terasa sekali ketimpangan sosial antara kedua SD tersebut. Berita hari ini, ada satu SDN yang roboh.

Menurut ‘mata-adil’ saya, seharusnyalah setiap Sekolah Negeri di negeri ini mempunyai prasarana yang sama, baik dipedalaman Papua sana, atau yang berada di pusat kota Jakarta. Tidak boleh dibedakan. Karena ini Sekolah Negeri (atau Sekolah miliknya negara), maka tidak boleh juga menerima sumbangan dari pihak lain. Mutlak harus dibiayai negara.

Perbedaan Uang Pangkal juga menjadi pertanyaan. Kok, sama sama sekolah negeri uang pangkal berbeda? Tiap sekolah pasti punya jawaban (atau alasan) mengapa mereka menarik uang pangkal sedemikian besar. Uang sejenis inipun harus ditiadakan untuk sekolah Negeri. Alasannya sama dengan di atas, tidak boleh ada perbedaan antar sekolah negeri.

Tentu lain halnya dengan sekolah swasta, yang sah-sah saja menerima sumbangan dari pihak manapun.
Saya tidak tahu keadaan makro dari Anggaran Belanja Negara untuk pendidikan yang konon terlalu kecil. Saya juga tidak mengetahui kondisi dana subsidi Minyak (yang jadi BOS).

“Kaca mata” saya mungkin perlu diperbaiki, untuk menentukan apakah cukup adil kondisi di atas. Apakah benar pendapat saya, bahwa setiap Sekolah Negeri harus memiliki prasarana yang sama? Saya sendiri masih belum yakin. :)

Apalagi setelah baca blognya Harry Sekolah Swadaya – diskusi dengan penyelenggara sekolah gratis. Kok saya jadi merasa bahwa Negara tidak mampu memberikan pendidikan kepada warganya, seperti yang tercantum dalam UUD 45.

Minggu, 28 Juni 2009

pendidikan

"Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan."
(Ref: E-Pendidikan.Com)

Walapun keadaan di lapangan tidak sesuai dengan yang diharap (di atas) baru pada bulan ini (Agustus 2008) Pemerintah Indonesia sudah menjanji menyediakan anggaran untuk pendidikan tahun 2009 yang kalau digunakan secara efisien tanpa korupsi mempunyai kemampuan untuk mengatasi kebanyakan isu-isu di atas.

Salah satu isu yang dapat mengancam kesempatan untuk meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah adalah prioritas DepDikNas terhadap e-learning dan peran Internet di tingkat sekolah. Kelihatannya banyak pihak di DepDikNas masih percaya bahwa Internet adalah solusi untuk masalah-masalah pendidikan di Indonesia.

Padahal, retorika mengenai hebatnya Internet sebagai solusi pendidikan sudah mulai muncul di negara-negara maju sejak awal 1990an dan di negara-negara maju di mana kebanyakan sekolah sudah memiliki infrastruktur untuk e-Learning Online hanya sebagian kecil siswa-siswi di tingkat sekolah menggunakan teknologinya sebagai alternatif untuk sekolah konvensional. Mengapa? Bagaimana mutu pendidikannya?

"Those who place their faith in technology to solve the problems of education should look more deeply into the needs of children. The renewal of education requires personal attention to students from good teachers and active parents, strongly supported by their communities. It requires commitment to developmentally appropriate education and attention to the full range of children's real low-tech needs - physical, emotional, and social, as well as cognitive." Ref: Fool's Gold


Internet adalah alat bantu dan sumber informasi (yang sangat terbatas tanpa bahasa Inggris). Kebanyakan siswa-siswi di luar negeri (seperti di sini) hanya menggunakan Internet untuk mencari informasi umum, e-mail, chatting, dan hiburan.

Ada kemungkinan besar bahwa siswa-siswi juga akan mengakses situs-situs kekerasan, situs-situs yang berbasis kebencian, atau pornografi. Masalah utama adalah mereka dapat membuang waktu yang lebih baik digunakan untuk mengulangkan pembelajaran atau tugas PR dari sekolah.

Semua sekolah di Indonesia memang perlu paling sedikit satu (1) laboratorium komputer untuk mengajar TI (TIK) karena TI sudah masuk ke dalam semua bidang kejuruan maupun profesional.

Jangan sampai Indonesia lebih ketinggalan lagi karena sibuk dengan janji-janji yang belum terbukti (E-Learning oleh Internet) Ingat Buku Sekolah Online (BSE). Pendidikan yang bermutu, seperti di luar negeri, dicapaikan oleh sekolah dan pendidik yang bermutu, bukan oleh teknologi.

Bapak Presiden Indonesia Yth.

Dari berita-berita yang baru muncul pada bulan ini (Agustus 2008) kelihatannya Bapak President sudah mulai lebih memperhatikan isu-isu pendidikan. Kami sangat senang membaca "Presiden: Jangan Ada Lagi Gedung Sekolah Rusak". Tetapi isu-isu meningkatkan mutu pendidikan bukan hanya soal anggaran dan visi, kita harus menjamin bahwa mutu SDM di DepDikNas adalah mampu dan bebas dari paradigma yang lama, yang jelas tidak berhasil.

Kami di Pendidikan Network tidak dapat mengerti sebabnya DepDikNas sampai sekarang belum berpengalami reformasi. Polar pikir, kebiasaan dan paradigma kelihatannya belum dirubah sejak tahun 1998 (paling mutasi saja). Sebaiknya reformasi DepDikNas di laksanakan sebelum anggaran baru dialokasikan atau resikonya kita tidak dapat merealisasikan peningkatan mutu pendidikan yang signifikan. Jelas isu utama adalah korupsi.

Reformasi Birokrasi, 'The Irreformable'?

"Belajar dari pengalaman beberapa negara, reformasi administrasi bukanlah sesuatu yang 'irreformable'. Memang membutuhkan komitmen politik yang kuat-–bahkan sangat kuat--yang sering kali tidak saja menimbulkan resistensi dari lawan politik tetapi juga kawan politik."

Danger! Danger!

"Jarum jam menunjuk pukul 14.00 WIB. Sebanyak 38 murid kelas dua SD Pasundan 3, Jl Babakan Ciparay, Kota Bandung, berada di dalam kelas. Sedang asyik belajar, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Sejurus kemudian, gubrak!. Atap ruang kelas ambruk. Ruangan berantakan dan dipenuhi jeritan menyayat." (Republika Online, Maret/28/08)

Jelas banyak anak-anak kita maupun guru di dalam keadaan berbahaya kalau masuk sekolah. Kapan kita akan serious terhadap semua aspek-aspek pendidikan? Membaca berita "KEADAAN SEKOLAH".

Pertanyaan dari Lapangan (Saudara Debur)
RE: "Saran: dunia pendidikan di negri ini hampir carut marut. Guru disalahkan, kurikulum disalahkan yang bener mana?. Kalau guru kwalitasnya rendah berarti PT ynag mencetak guru buruk (dosennya)."

Bukankah semua sektor ini hanya sebagai daun di atas pohon pendidikan

pendidikan

Hentikan Korban UN

Gelaran Ujian Nasional (UN) yang seharusnya menjadi salah satu alat ukur ketuntasan belajar siswa, di tahun pelajaran 2008/2009 ini berubah jadi musibah. Akibat kelemahan sistem, muncul banyak celah yang menempatkan siswa sebagai korban. Terlebih lagi, hanya karena kesalahan faktor teknis, khususnya saat pemindaian (scanning) lembar jawaban, masa depan ratusan siswa di Jawa Timur amat dipertaruhkan.
Di SMK PGRI 3 Kota Malang misalnya, sudah hasil UN diumumkan telat (tidak berbarengan dengan SMA pada 17 Juni –red), angka ketidaklulusannya mencapai 50 persen, tepatnya 284 siswa. Merasa kaget dan tidak terima atas kejanggalan ini, Santur Hidayat SPd selaku kepala sekolah nekad melapor ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Hasilnya memang ada kesalahan dalam proses scanning LJUN.
“Ini sudah tidak logis, masa 279 tidak memiliki nilai produktif alias nol. Setelah dicek ternyata pada saat scanning ada kunci jawaban yang tertukar. Hasilnya hanya 12 siswa saja yang murni tidak lulus,” ungkap Santur.
Kepala SMK Nasional Kota Malang, Drs Hadi Susanto juga merasakan kejanggalan yang sama. Beberapa siswanya yang memiliki riwayat prestasi bagus selama di sekolah juga terganjal kelulusannya akibat kesalahan scanning. Kondisi seperti ini tidak hanya menjadikan siswa terbebani, namun pihak sekolah juga menanggung beban moral. Secara umum Hadi menilai kinerja BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) merosot tajam.
“Tahun lalu, sebagai penyelenggara UN, kinerja BSNP sudah cukup bagus. Tapi tahun ini merosot tajam. Saya tidak peduli bagaimana sistem penilaian atau pengoreksian LJUN dilakukan, asal jangan jadikan siswa itu sebagai percobaan sistem UN apalagi sebagai korban. Kasihan ini anak-anak,” tegas Hadi Susanto.
Kesalahan dalam scanning LJUN memang terbukti menjadi penyebab utama angka ketidaklulusan siswa. Hal ini juga diakui oleh Dra Kunti Nursasiati, Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Malang. Menurutnya proses scanning dilakukan dengan tidak tertib sehingga mempengaruhi predikat kelulusan siswa. Predikat lulus dan tidak lulus yang menjadi penentu nasib dan masa depan siswa, seperti dipermainkan.
“Bagaimana tidak dipermainkan, jelas-jelas jenis soal dan bobot antara UN Utama dan UN Susulan itu beda. Tapi saat scanning, LJ UN Utama dikoreksi menggunakan kunci jawaban UN Susulan, begitu juga sebaliknya. Ini sangat mempengaruhi psikologi siswa,” tandas Kunti Nursasiati.
Adanya berbagai kelemahan sistem hingga kesalahan teknis pada penyelenggaraan UN ini ditengarai bersumber dari BSNP. Menurut R Didik Indriatno WM MM selaku ketua MKKS SMK Swasta Kabupetan Malang, BSNP dinilai tidak mampu mengkomunikasikan dengan baik prosedur operasional standar (POS) UN kepada mitra yang ditunjuknya untuk bekerja sama.
“Cakupan kerja BSNP itu luas dan nasional, sedang komposisi keanggotaannya terbatas. Bukan tidak mungkin BSNP menjadi sangat terbebani apalagi dihadapkan pada waktu yang sangat terbatas. Kewenangan untuk bermitra yang dilakukan BSNP ternyata tidak diikuti dengan pemahaman yang sama terhadap POS UN,” terang Didik Indriatno.
Malah oleh Ir Heryanto Budiono selaku ketua MKKS SMK Swasta Kota Batu, BSNP harus direformasi. Bahkan sudah saatnya masyarakat menggugat kinerja BSNP ini ke jalur hukum. Setidaknya di Jawa Timur ini ada satu wadah yang bisa menjembatani adanya gugatan pada BSNP ini. Meski kemungkinan menangnya kecil setidaknya menjadi peringatan keras agar BSNP tidak main-main dalam menyelenggarakan UN.
“Kondisi UN tahun ini harus benar-benar dikritisi. Beberapa item yang harus ditinjau ulang adalah sistem penilaian produktif bagi SMK dan harus adanya UNPK yang berbasis kejuruan,” kata Hery. .sty,min,dik-KP
NGALAMANIA.COM
Televisi Pendidikan

Televisi Pendidikan adalah medium yang sangat bagus untuk membagi informasi dan bahan pendidikan kepada masyarakat secara luas. Teknologi terbaru termasuk komputer dan Internet sudah menjadi pilihan utama untuk teknologi pendidikan, dan ada beberapa orang yang kira televisi adalah teknologi lama. Tetapi, potensi Televisi Pendidikan untuk membawa pendidikan ke semua masyarakat di mana mereka duduk, belum begitu tercapai.

Pendidikan untuk Rakyat
Pendidikan Rakyat!


Berita Televisi Baru

Keadaan di Indonesia

Komputer, Internet dan Teknologi Pembelajaran

Di website ini kami menyediakan venue untuk pendidik-pendidik di lapangan supaya mereka dapat membahas hal-hal terkait dengan televisi pendidikan, memasang sumber-sumber bahan pendidikan pribadi atau link-link ke situs mereka, dan video-clip yang pendek mengenai praktek pengajaran untuk membantu guru-guru lain di lapangan.

Kami berharap partisipasi dari pendidik-pendidik dari semua negara untuk memajang idea-idea dan hasil praktek-praktek baru di sini. Salah satu kesempatan untuk membuka diskusi adalah forum kami:


(Bahasa Indonesia/Malaysia/Inggris oke!)

CATATAN:
Kami menggunakan fasilitas YouTube.Com di website kami.

Kalau anda tidak dapat melihat video di bawah JavaScript di komputer anda sedang dimatikan atau versi Macromedia Flash Player anda sudah terlalu lama. Ambil flash player terbaru disini.


"Pelajar Kayuagung Kecanduan Game Online"

"KAYUAGUNG, KOMPAS.com — Para siswa SD hingga SMA sederajat di Kayuagung, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, ditengarai sudah kecanduan permainan di internet (game online) sehingga cenderung malas belajar."

"Redi (11), pelajar di salah satu SD negeri di Kayuagung, mengaku sengaja menyisihkan uang jajannya sebesar Rp 3.000 per hari untuk bermain game online di warnet selama satu jam penuh karena sehari saja tidak ke warnet ia mengaku pusing."

"Di sejumlah warung internet di Kayuagung diketahui, puluhan kelompok pelajar hampir setiap hari memenuhi warnet untuk bermain game online, bahkan ada siswa yang membolos sekolah demi menyalurkan hobi di dunia maya tersebut."

"Sejak empat bulan terakhir saya tidak pernah lagi jajan di sekolah karena uang yang diberikan orangtua disimpan untuk membayar sewa warnet selama satu jam supaya bisa main game online, kata Redi."

"Firman (42), salah seorang pemilik warnet di Kayuagung, membenarkan perihal banyaknya pelajar di daerah itu yang saat ini sedang kecanduan game online, Facebook, dan Friendster di dunia maya."

"Facebook Sebabkan Mahasiswa Malas dan Bodoh"

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengguna Facebook yang masih sekolah berhati-hatilah! Menurut studi yang dilakukan oleh Ohio State University, semakin sering Anda menggunakan Facebook, semakin sedikit waktu Anda belajar dan semakin buruklah nilai-nilai mata pelajaran Anda.

"Hati-hati, 600 Juta Situs Seks Intai Pelajar!"

SURABAYA, KOMPAS.com — Sedikitnya 600 juta situs seks dan pornografi saat ini mengintai pelajar pengguna internet. Karena itu, harus ada kontrol penggunaan internet.

"Konsumsi Anak terhadap Siaran Televisi, Internet, dan Telepon Seluler harus dikurangi"

"Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi minta para orang tua untuk mengurangi kebiasaan anak menonton televisi, mengakses internet dan menggunakan telepon seluler." (Saturday, February 21, 2009)

Kami di E-Pendidikan.Com terus ditanya "Apakah ada informasi baru di bidang teknologi & pendidikan?" Ya:

Teknologi Sekarang Membuat Beberapa Ancaman Baru Terhadap "Anak-Anak Bangsa Yang Cerdas".
  • Banyak sekali siswa-siswi sudah biasa membuang terlalu banyak waktu main games, misalnya Play Station dan Games Online. Waktu ini sebaiknya digunakan untuk menambah kemampuan mengulang pelajaran dari sekolah. Sebagai siswa-siswi atau orang tua yang bertanggungjawab kita perlu sangat membatasi atau memonitor waktu anak-anak kita main games atau akses Internet.

    Ingat bahwa main games hanya dapat menyiapkan anak-anak kita untuk jurusan pengangguran!

  • Terlalu banyak siswa-siswi juga sudah mulai menghabiskan banyak waktu di Internet di situs-situs hiburan (atau cari jodoh) seperti Facebook, Yahoo Messenger dan Friendster di mana mereka hanya menghabiskan waktu, yang sangat tidak produktif, dan perlu dibatasi. Kalau kita rajin keliling warnet setelah jam sekolah kita dapat melihat bahwa kebanyakan siswa-siswi sedang sibuk dengan chatting dan e-mail (pergaulan).

    Ini juga baik untuk mereka yang hanya berharap ikut pengangguran!

  • Lebih dari 90% bahan dan informasi yang bermutu, yang dapat meluaskan dan membuka pikiran dan kreativitas anak kita di Internet dalam bahasa Inggris (the international language). Internet sebagai sumber informasi saja sangat terbatas untuk anak-anak kita karena bahan dan informasi bermutu dalam bahasa Indonesia adalah sangat sedikit. Sebetulnya ada banyak isu yang jauh lebih penting. Misalnya!

    Lebih baik mereka menggunakan waktunya untuk belajar bahasa Inggris supaya mereka dapat berpartisipasi di dunia global, kan? Maupun membuka pintu kerja di seluruh dunia.

    Informasi dan bahan pembelajaran yang paling tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi mereka akan menerima di sekolah oleh guru. Kadang-kadang gurunya akan menambah kegiatan seperti penelitian di mana siswa-siswi diberi tugas mencari informasi dari Internet. Ini kegiatan yang baik dan adalah fokus. Kegiatan begini sebaiknya dilaksanakan di luar jam sekolah supaya tidak makan waktu di sekolah yang masih sangat kurang.

Do we need education technology to achieve quality teaching/learning?

Teknologi pendidikan yang sampai sekarang ini masih sangat dapat membantu guru dan siswa-siswi di lapangan adalah apa?

  • Biasanya teknologi yang paling efektif adalah yang paling sederhana, yang mengajak siswa-siswi aktif dalam proses pembelajaran. Misalnya

  • Semua siswa-siswi perlu belajar keterampilan komputer dan TIK karena keterampilan komputer dan TIK sering sekali adalah kebutuhan utama di lapangan kerja. Tetapi teknologi cangih sebagai media untuk menyampaikan pendidikan kita tidak perlu!

"I can answer "No" without any hesitation to your basic question 'do we need education technology to achieve quality teaching/learning?'" (Totok Amin Soefijanto)
Mr. Totok Amin Soefijanto is Deputy Rector (Vice-Chancellor) for Academics and Research at Paramadina University, Jakarta.
He earned his Ed.D in educational media and technology at Boston University.

Apakah benar teknologi adalah solusi untuk
pendidikan yang bermutu di Indonesia?

Sebentar lagi anak-anak kita akan menghadapi Ujian Negara (UN). Yang paling penting sekarang adalah pembelajaran dari sekolah mereka. Mohon jangan sampai main game komputer, chatting, Friendster, Facebook, dll dapat memakan waktu mereka sampai anak-anak kita dirugikan oleh teknologi!

Ingat Ya!
"Facebook Sebabkan Mahasiswa Malas dan Bodoh"
Tata letak Tidak BagusTanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan siswa-siswi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu.

Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia (dan di seluruh dunia).

Kelas Pelajaran IT

Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).

Minggu, 24 Mei 2009

landasan bimbingan konseling

Oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd.

Abstrak :

Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan, maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh, dengan mencakup: (1) landasan filosofis, (2) landasan psikologis; (3) landasan sosial-budaya, dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia, selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis, religius dan yuridis-formal. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling, setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.

Kata kunci : bimbingan dan konseling, landasan filosofis, landasan psikologis; landasan sosial-budaya, landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.

A. PENDAHULUAN

Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah layanan profesional, kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling, baik dalam tataran teoritik maupun praktek, dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan, khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien).

Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak, khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawar-tawar lagi dan menjadi mutlak adanya.

Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini,– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling.

Selasa, 19 Mei 2009